Rimba Tawon

Agrowisata Lebah

CICIPI MADU BONUS SENGATAN
Sebagai kota wisata, malang tentu punya banyak pilihan berlibur. Tak hanya untuk senang-senang, tapi juga untuk sarana edukasi dan meningkatkan kecintaan pada lingkungan.
Ada obyek agrowisata yang belum seberapa popular di malang. Namanya, agrowisata tawon di Jl Dr Wahidin, Lawang. Sesuai dengan namanya wisata menawarkan kelebihan-kelebihan dari sosok serangga lebah atau tawon.
Pantas di sebut plus-plus karena pengunjung akan di sediakan berbagai manfaat dari serangga penyengat ini. Karena selain bisa menikmati sajian alam pembuktianseluas2,5 hektare dengan aneka tanaman tropisnya yang menjadi habitat para lebah berkembang’ pengunjungpun semua kelebihan dari serangga berbisa ini.

Bukan hanya dari badan serta berbagai produk olahannya saja, namun sengatannya pun bisa dimanfaatkan sebagai pengobatan alternatif terapi sengatan lebah. Di beberapa daerah di Indonesia, terapi ini sudah cukup popular.
Hasil olahan tawon pun bisa dimanfaatkan sebagai produk makanan yang kalah lezatnya. Sebut saja botok tawon (pepes tawon) dan osek (sejenis masakan kare). Dua masakan ini berbahan dasar larva lebah dan lebah muda.

Selain itu, manfaat obat-obatan yang dihasilkan dari produk hasil kerja para pasukan tawon. Misalnya madu (makanan pokok lebah), bee pollen (serbuk sari bunga jantan yang menempel di kaki lebah), dan royal jelly (air liur lebah yang menjadi makanan ratu). Selain itu juga ada propolis (getah tanaman yang dihisap lebah), lilin lebah (hasil pembakaran dari sarang lebah), dan yang terakhir larva (cikal bakal lebah). Konsep wisata yang masih dalam penyempurnaan ini sudah beroperasi sejak tahun 1970 silam. Antara lokasi peternakan, show room aneka produk hasil olahan tawon, dan rumah makan yang berada di tempat yang terpisah. Untuk peternakan berada di tempat sebelah barat ruas jalan poros Malang-Suarabaya. Tepatnya, ada di pertigaan jalan ke arah barat menuju pabrik pemintalan benang PT Patal, Lawang.sedang showroom berada di sebelah timur lokasi peternakan. Sementara untuk rumah makan yang secara menyediakan menu khusus tawon, berada di sebelah timur jalan poros Malang-Surabaya, berhadpan dengan showroom.

Untuk menuju wisata ini, pengunjung tidak terlalu kesulitan, jika naik kendaraan pribadi dari arah Surabaya, jarak dari pasar Lawang hanya sekitar 7 kilometer. Sedang jika dari terminal Arjosari-Kota Malang, jaraknya sekitar 17 kilometer.
Untuk sekadar berjalan dan melihat-lihat lokasi peternakan, pengelola tidak menarik karcis masuk alias gratis. Area parkir luas. Hanya saja jalan untuk menuju lokasi peternakan agak sempit dan masih macadam. Untuk mobil jenis sedan dan station masih bisa masuk, namun jika bus sulit dan harus parkir di luar area peternakan.

Begitu masuk area peternakan, kita bisa melihat puluhan koloni yang dijajar rapi di tepi jalan. Biasanya, di area ini terdapat sebanyak12.00 koloni tawon. Satu koloni dipimpin oleh ratu yang memiliki 8 sarang tawon sebanyak kurang lebih 15 ribu ekor. Koloni-koloni itu terbuat dari kotak kayu. Ukurannya sebesar kotak surat. Di sekitar hutan buatan itu, kurang lebih 20 persennya, pengelola memanfaatkan untuk kawasan pendidikan. Bangunan dua lantai berukuran 8 x 20 meterini, dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan rumah tawonyang tidak terpakai di lantai 1. sedang di lantai II di desain ruang terbuka tanpa dinding sebagai ruang penyuluhan. Di sekitar bangunan utama itu, ada sekitar empat bangunan beukuran sedang yang dimodel gazebo.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: